Selasa, 20 Desember 2011

Snow Fairy chapter 2


“Megami itu dewi… bukan peri…”

“Tapi aku lebih suka memanggilmu yousei…”

“Kenapa? Lagipula megami lebih baik kan daripada yousei?”

“Hmm… entahlah, aku lebih suka memaggilmu yousei…”

“Hah... terserah kau saja… bicara soal nama, namamu siapa?”

“Namaku **** ….”

DEG!! Lamunan tadi hilang beriringan dengan nyaringnya bel sekolah berbunyi.

“Berapa lama aku diatas sini?”

SNOW FAIRY

Chapter #2; Sing For Me

Pelajaran matematika sudah berlalu beberapa detik setelah terdengar suara bel ang begitu nyaring, dan sesegera mungkin gadis blonde berponi itu memasuki ruangan kelas dan duduk dibangkunya.

“Shi-chan? Tumben kamu membolos pelajaran,” ucap teman sebangkunya, Noe. Shi hanya tersenyum kecut mendengarnya. Iya, ini adalah kalipertamanya membolos pelajaran disekolah. Kemudian matanya menjelajah ke sudut ruangan kelas itu. Dipojok kiri, Dai bersama dengan sebangkunya sedang antusiasnya bercerita.

“Gezz…” desahnya kasar kemudian kembali duduk.

~~~Istirahat~~~

Shi berjalan menuju kursi belakang. Terlihat disitu Dai dengan sebangkunya, Naru berhenti berbicara ketika dia berdiri di depan meja mereka. “Ada apa?” tanya Dai. Shi menggeleng kemudian memberikan head-phone beserta I-pod yang Dai pinjamkan kedia, kemudian pergi dari situ. “Bagaimana pendapatmu tentang lagunya?” tanya Dai. Shi membalikkan badannya.

“Jelek. Lagu itu tidak cocok denganku. Terlalu mellow. Lagu apaan itu? Apakah ada orang aneh yang bisa menciptakan lagu seaneh itu?” tanya Shi kemudian menggeleng sebentar lalu pergi. Dai dan Naru cengo ditempat. Hingga beberapa saat kemudian Naru menepuk pundak Dai. “Man, bahkan dia tidak berterima kasih kepadamu.” Katanya sambil geleng-geleng. Dai kemudian berdiri, “Bukan Shi namanya kalau tidak tsundere begitu…” katanya kemudian pergi meninggalkan Naru yang juga cengo pangkat dua.

Di atas atap, Dai berjalan menjelajahi ruangan yang cukup luas itu hingga akhirnya dia menemukan objek pencariannya itu. Shi Megami. Dia sedang duduk diujung balkon, sama seperti kemarin. Kakinya menari-nari secara bergantian, mata blue shappire yang sayu menatap kerumunan orang yang berjalan kesana-kemari. Dai mulai berjalan mendekatinya.

“Dasar tidak sopan! Setidaknya berterima kasih kek,” ucapnya seraya duduk disampinng Shi. Namun Shi sama sekali tidak menggubris perkataan dari Dai. Bahkan dia hanya diam melanjutkan aktivitasnya. “Kau kenapa?” tanya Dai lagi, namun gadis itu tetap diam. Dai yang jengkel mulai memasang earphone ditelinganya dan menikmati alunan lagu yang keluar dari I-pod nya.

“Say tomorrow~ I can’t follow you there… just close your eyes… and sing for me…I will hear you… Always near you…And I'll give you the words,  just sing for me…” Dai tetap melantunkan lagu tersebut hingga Shi menoleh kearahnya.

“Tidak bisakah kau menyanyikan lagu yang lebih bagus daripada lagu itu?” tanya Shi jengkel. Matanya tetap sayu meskipun nadanya terkesan menyebalkan. Dai mengeryitkan alisnya. “Kau dengar dulu, kemudian resapi kata-katanya. Lagu ini penuh dengan makna,” katanya kemudian memasangkan sebelah earphone itu ke telinga Shi.

“Aku tidak mau!” kata Shi yang melepas earphone itu. Dai menggeleng, “Terserah.” Katanya tapi tidak memasang earphone itu. Shi tetap duduk menundk selama Dai mengangguk, menggeleng, dan lain sebagainya.

“Aku mau tanya…” kata Shi, tapi pandangannya tetap didepan. Dai terdiam, “Apa?” Shi menolehkan kepalanya melihat Dai, “Kenapa playlist dari I-pod mu hanya ada lagu itu?” Dai tertawa. “Menurutmu?” tanya Dai. Shi menggeleng, “Kalau tidak jawab juga tiak apa-apa.” Kata Shi jengkel. Dai masih saja tetawa, dan itu membuat Shi semakin jengkel.

Mata shappire itu kembali sayu…

“Lagu itu mengingatkanku pada seseorang…” katanya. Dai berhenti tertawa, “Hm? Benarkah?” tanya Dai. Shi mengangguk. “Yuki.” Katanya.

Disaat yang sama... air mata itu mengalir pelan

Kamis, 13 Oktober 2011

Snow Fairy chapter 1

Gagal itu tidak enak bukan?

Siapa yang ingin gagal? Apakah ada manusia yang ingin gagal didunia ini? Entahlah. Yang jelas GAGAL itu menyakitkan!!!

*****

Disini dia berada. Disebuah lantai paling atas di sekolah memandang kebawah -melihat murid-murid berlalu-lalang dengan mata kosong. Kakinya diayunkan kedepan dan kebelakang secara bergantian, dan kedua tangan berdiri tegak dimasing-masing sisi menjadi tumpuan orang itu.

Shi Megami, perempuan, pelajar kelas dua SMU, 16 tahun. Ulangan Kimia mendapat nilai B.

Menghela nafas, dia mencoba menenangkan diri. Kali ini matanya tertuju kepada secarik kertas yang cukup kusut.
"Ulangan kali ini nilaiku jelek..." desahnya, kemudian meremas kertas itu sampai benar-benar kusut dan membuang kertas itu kebelakangnya.

PLUK

"Dai?" panggil perempuan itu ketika menyadari suara telapak seseorang.

"Dapat nilai jelek eh, Shi?" tanya seseorang yang membuka kertas tersebut. Perempuan itu mengalihkan pandangannya menuju orang itu.

"Hm." hanya itu yang keluar dari bibirnya, kemudian membalikkan badannya dan melanjutkan kegiatannya yang sebelumnya.

"Guru Kimia kita memang gitu... dia pelit kalau soal nilai," katanya, kemudian duduk disampinng perempuan itu. Shi yang terkejut langsung saja menjauh, "Apa-apaan kau duduk disitu?"

"Gezz, ya duduklah! Masa jongkok?" tanya Dai kemudian memposisikan dirinya se-PW mungkin (mulai humornya nih ==) sementara Shi hanya diam menunduk.

"Hey, ini hanya ujian bulanan saja... bukan mid semester..." katanya mengusap kepala Shi dan dibalas tatapan sangar oleh Shi.

'Enaknya jadi orang yang tidak banyak pikiran sepertimu," cibir Shi. Dai hanya tertawa hambar. "Dibawa enjoy aja, lagian bukan cuma Shi aja yang dapat nilai B kan?" ucap Dai.

"Hm." lagi-lagi dia mengatakan hal itu. Dai mengeluarkan sebuah head-phone dan memasangkannya ke telinga Shi.

"Apaan ini?" tanya Shi to the point. Dai berdiri kemudian tersenyum hambar.

"Lagunya bagus. Dengerin aja sampai puas," katanya menunduk, dan mengacak rambut Shi dan hendak pergi dari tempat itu.

"Hei, DAI!!!" pangil Shi. Dai menoleh kebelakang.

"Makasih," katanya datar kemudian membalikkan badannya. "Sudah pergi sanah." tambahnya. Dai hanya tersenyum menggeleng kemudian pergi.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sabtu, 08 Oktober 2011

Preposition of Place


Preposition of place (kata depan yang menunjuk tempat)


Preposisi menunjukkan hubungan antara dua benda atau lebih. Sebagai contoh: “The lamp is on the table” mengandung preposisi “on“. Kata ini menunjukkan hubungan ruang antara lampu dan meja.
Preposisi tempat yang paling umum adalah: in, on, under, next to, in front of, behind, at.
Perhatikan gambar-gambar berikut untuk mempelajari pemakaian preposisi tempat:


in, on, under, in front of, dan behind jelas terlihat. Contoh-contoh kalimatnya adalah:

- The dog is in the box
- The cat is under the table
- Tjhe man is next to the building


Akan tetapi at merupakan konsep yang lebih abstrak - preposisi ini digunakan untuk menunjuk pada sebuah titik dalam ruang, biasanya sebuah titik pada sebuah garis. Lihat berikut untuk penjelasan yang lebih rinci.

In, On, At

In digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang mengelilingi atau melingkupi kita. Contoh:
- I sleep in my bedroom.
- The desk in the room.


In  juga digunakan untuk area-area geografis seperti kota dan negara, misalnya: “I live in London” atau “I live in England”.

On digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang ada di atas sebuah permukaan. Misalnya:
  • I sleep on my bed.
  • The paper is on the desk.
On juga digunakan untuk nama-nama jalan, misalnya: “I live on Orchard Roard”.

At digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang berada pada sebuah titik tertentu, seringkali sebagai bagian dari sebuah garis. Sebagai contoh:
- He is at the bus stop.
Bus stop (penghentian bus) merupakan sebuah titik dalam sebuah garis yang terdiri dari beberapa penghentian bus.
- John is at the bank.
John berada pada tempat atau titik tertentu, yakni di bank. Bank merupakan bagian dari perjalanannya dan juga bagian dari sebuah jalan, yang mana keduanya bisa dianggap sebagai garis.

At  juga digunakan untuk alamat-alamat lengkap, contoh: “I live at 22 Orchard Road, London, England.
Bagaimana sebenarnya kita dapat memastikan kapan menggunakan in, on atau at? Ini tergantung pada perspektif pembicara, dan apa yang dianggap berterima dalam Bahasa Inggris. Ini merupakan pertanyaan yang ditemui oleh setiap orang yang mempelajari bahasa Inggris dan mereka tidak dapat menjawab sepenuhnya melalui hafalan atau aturan yang ada. Semakin banyak anda mempelajari bahasa Inggris anda akan semakin berpengalaman untuk mampu memutuskan kapan menggunakan in, on, atau at. Cukup selalu mencoba untuk memahami, dan pada akhirnya anda akan bisa.


Kosa kata baru
 
excuse me = permisi
where = dimana
post office = kantor pos
go straight = jalan lurus
next to = di samping
bank = bank
address = alamat
street = jalan
zip code = kode pos
thankyou = terima kasih
where = dimana
refrigerator = lemari es
there = disana
Cupboard = lemari
soda = soda
shelf = rak
work = bekerja
bank = bank
secretary = sekretaris
shop assistant = penjaga toko
local store = toko lokal
yellow = kuning
building = bangunan
clothes store = toko pakaian

Jumat, 07 Oktober 2011

:O~

Setiap kali ku melihatmu
Setiap kali kau tersenyum padaku
Sedikit demisedikit persasaanku padamu tumbuh

Sekarang, setiapku berfikir tentangmu
Setiap kali aku menggambarmu
Hatiku tidak akan berhenti berdetak

Aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku lagi
Aku ingin memberikan segalanya

Aku selalu disampingmu, disampingmu
Tidak bisakah aku mencintaimu?
Hatiku ingin melindungimu lebih dari orang lain
Tak bisakah kau menerima hal itu?

Dalam hatimu... dalam hatimu
Apakah tidak bisa menjadi diriku?
Aku ingin menjadi orang yang paling berharga untukmu
Hei... terimalah hatiku

Kumohon mengertilah....
Hei... jawab aku....
Kalau ku tau apa yang kurasakan

Hei... terimalah aku....

Jumat, 23 September 2011

Our World are cruel right, Oniichan? part II

Our worlds are cruel right, Oniichan?
*
*
*
Lelaki itu mengelilingi rumahnya yang baru. Walaupun tidak cukup besar seperti rumahnya yang lama, sepertinya dia tidak keberatan samasekali. Kemudian dia menapaki kakinya menuju lantai dua. Matanya tertuju pada sebuah pintu kayu jati dengan ukiran berupa malaikat.

“Kanza…” panggil wanita separuh baya yang berdiri dibelakangnya, Kanazuki Fallenstein. Lelaki beridentitas Kanzairu Fallenstein itu menoleh. Wanita separuh baya itu mendekatinya.

“Polisi mengatakan kalau Chou tidak bersalah. Dan Chou sudah dibebaskan dari tuduhan…” kata wanita itu. Kanzairu mengangguk. “Arigato, Obaa-san.” Katanya singkat, kemudian dia memutar knop pintu yang dia pandangi tadi.

“Chou…”

Chapter #2; is it…. Forbidden?

*
*
Ruangan tersebut tidak terlalu terang. Ternyata dia hanya menyalakan lampu tidur. Black ruby eyes itu memandang seorang gadis kecil sedang tidur hingga akhirnya dia duduk ditepi ranjangnya.

“Nii-chan?” panggil Chou setelah black ruby eyes miliknya terbuka. Kanzairu hanya tersenyum membelai rambut Chou. “Bagaimana perasaanmu?” tanya Kanzairu, sang adik hanya tersenyum simpul kemudian duduk berhadapan dengan sang kakak.

“Obaa-san sudah pulang?” tanya Chou, dia mengangguk kemudian memeluk Chou. “N-niichan? Ada apa?” tanya Chou kaget namun tidak memeluknya kembali. “Niisan janji…” ucapnya terputus ketika Chou bergumam kecil, “Niisan akan menjagamu, Chou.” Katanya sambil membingkai kedua pipi Chou.

“Ii darou…” kata Chou membelai tangan Kanzairu yang membingkainya. “Niichan sudah menjaga Chou selama ini…” katanya sambil tersenyum. Kanzairu menatapnya sendu. “Aku sudah gagal menjaga Okaa-sama...” katanya pelan. Chou menunduk.

“Masih ada Chou disini~” katanya sambil tersenyum. Kanzairu tersenyum miris, mata Chou terbelalak kaget ketika sang kakak mengecup bibir merahnya sesaat.

“N-niichan…” katanya kaget kemudian memegang bibirnya, keterkejutannya bertambah satu lagi ketika Kanzairu tiba-tiba memeluknya erat. “Niisan menyayangimu, Chou…” katanya. Chou membalas pelukan tersebut, “Chou juga Niichan…” katanya tersenyum.

If this is love, I want to wear it on my sleeve
The ‘strange feeling’ turns into an unbearable longing
I would follow you to the end of forever
*
*
“Kau yakin tidak mau tinggal bersama kami?” tanya Kanazuki. Kanzairu hanya menggeleng pelan. “Tidak… aku masih bisa menghidupi Chou sendirian…” katanya tersenyum simpul. Kanazuki menghela nafas berat.

“Kau yakin, Kanza?” tanya Kanazuki. Kecemasan terukir jelas diwajahnya. Apalagi ketika melihat Kanzairu mengangguk dengan pasti, dia tetap cemas. “Hhhh… jika kalian membutuhkan sesuatu, hubungi saja kami.” Hanya itu yang bisa dia katakan.

“Tapi… tapi Chou mau tinggal bersama Kana-baa-san…” rengek Chou sambil mengguncang lengan Kanzairu. “Tidak bisa…” katanya hingga Chou menunduk lesu. “Kanza… kamu mau membiarkan Chou sendirian?” tanya Kanazuki. “Tidak. Hanya aku yang bisa menjaga Chou…” katanya miris. Kanazuki menggigit bibir bawahnya.

“Chou sudah aku anggap seperti anakku sendiri… aku yakin dia akan baik-baik saja tinggal disini,” ungkap Kanazuki meyakinkan. “Niichan… Chou ingin tinggal dengan Kana-baasan…” katanya membujuk Kanzairu. “Hhhh… baiklah.” Katanya.

“Arigato Niichaaan~” katanya kemudian mencium pipi Kanzairu kemudian pergi dari tempat itu. “Hah?” Kanazuki melihatnya kaget kemudian menatap Kanzairu. “Apa kalian sering melakukan hal itu?” tanya Kanazuki. “Maksudnya?” tanya Kanzairu tidak mengerti.

“Kalian sering berciuman seperti itu?” tanya Kanazuki. Kanzairu mengeryitkan keningnya. “Ada yang salah dengan itu?” tanya Kanzairu lagi. Kanazuki menghela nafas berat. “Ada. Kalian itu saudara kandung, tidak pantas berbuat seperti itu.” katanya, Kanzairu mengepalkan tangannya.

“Kami… tau itu.” Katanya pelan, “Dan aku hanya menganggap itu sebagai ciuman sayang antara adik ke kakaknya,” katanya. Kanazuki mengerutkan matanya. “Benar hanya itu?” tanya Kanazuki diiringi anggukan ragu dari Kanzairu. “Baguslah. Tapi kuharap kalian segera menghentikan kejadian seperti tadi,” katanya. Kanzairu hanya terdiam.

“Kau tidak akan selamanya berada disisinya. Suatu saat Chou akan menikah, begitu juga denganmu, Kanza.” Katanya. “Hn.” Hanya itu yang dia katakan.

*
*
Tok…Tok..

“Chou?” panggil Kanzairu setelah memutar knop pintu tersebut. Terlihat disitu Chou sedang membereskan baju-bajunya. “Iya, Niichan…” katanya masih sibuk dengan perkerjaannya. Kanzairu duduk ditepi ranjangnya, sementara Chou ada dibawahnya sambil bersenandung ria.

“Sepertinya kau sangat senang ya…” gumam Kanza pelan. Chou mendongakkan kepalanya dan tersenyum senang. “Tentu saja, sekarang Chou tidak akan kesepian lagi…” katanya. Kanzairu tersenyum getir.

“Chou baik-baik saja… jika Niisan tidak disini?” tanya Kanzairu pelan. Chou mendadak berhenti kemudian menatap Kanzairu heran. “Niichan mau kemana?” tanya Chou dengan nada takut namun dibalas dengan gelengan darinya. “Hanya memastikan…” katanya tersenyum.

 “Hiks… hiks…” Kanzairu tersentak ketika Chou memeluknya dan menangis. “Niichan jangan pergi…” ucapnya dengan nada bergetar seirama dengan bahunya yang berguncang. Disisi lain, Kanzairu tersenyum kemenangan.

“Chou milikku...” gumamnya pelan. Chou menatap sang kakak dengan heran. “Niichan berkata sesuatu?” katanya diiringi gelengan Kanzairu. “Niisan tidak akan kemana-mana,” katanya memeluk Chou lagi, namun kali ini penuh perasaan.

“Chou sayang Niisan?” tanya Kanzairu sambil membelai rambut belakang sang adik, indra penciumannya menghirup wangi lavender dari tubuh sang adik. “Chou selalu sayang Niichan…” katanya.  Kanzairu hanya tersenyum simpul.

~~Ashita~~

“Chou...” panggil Kanzairu setelah memutar knop pintu. Setelah menjelajahi seluruh ruangan, Chou tidak ada ditempat. Mungkin karena masih pagi, pikirnya hingga dia melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Sudah ada bibinya, Kanazuki dengan saminya sedang bercengkrama.

“Ohayou, Kanza...” ucap sang bibi. Kanzairu mengangguk malas sambil duduk dihadapan mereka. Orang yang dia cari ternyata tidak ada ditempat. “Mana Chou?” tanya Kanzairu menatap Bibi dan Pamannya heran.

“Ahhh... tentu saja dia sedang belajar disekolah, bibi lupa mengatakan padamu kalau dia sudah bibi daftarkan kesekolah dekat sini,” katanya sambil menyeruput tehnya. Kanzairu mengangguk, “Dengan siapa?” tanya Kanzairu lagi. “Dengan temannya, kebetulan tetangga dekat sini punya anak yang bersekolah disana,” jelas Kanazuki. Sekali lagi, Kanzairu mengangguk.

“Kau juga akan belajar di perguruan tinggi, yang letakknya tidak jauh dari sekolah tersebut. Jadi kamu bisa mengantar-jemput Chou,” katanya.

“Baiklah. Aku tidak keberatan,” katanya.

Skip time_ Kanzairu terdiam dikamar dengan sebuah buku ditangannya. Fikirannya sudah tidak focus lagi terhadap buku yang ada didepannya. Dia memikirkan gadis yang selalu bersamanya. Hampir delapan jam dia tidak melihat Chou. Matanya menerawang melalui jendela kamarnya dilantai dua, hingga akhirnya dia melihat sesuatu dibawah sana.

Dia melihat Chou pulang dengan seorang pria disampingnya. Sepertinya itu anak yang dimaksud bibi Kanazuki tadi, tapi... dia tidak mengatakan kalau anak yang dimaksud itu laki-laki! Pikirnya emosi.

Kanzairu berjalan menuju kamar Chou. Dia melihat gadis itu baru masuk kedalam kamarnya. “Chou!” panggil Kanzairu mengagetkannya. “Niichan... kau mengagetkanku...” katanya sambil memegang dadanya.

“Siapa dia?” tanya Kanzairu sinis, Chou mengeryitkan keningnya tidak mengerti. “Laki-laki yang mengantarmu pulang,” jelas Kanzairu lagi. Chou ber ‘aahh’ ria. “Dia hanya teman sekolah, karena rumahnya dekat dengan kita, dia antar Chou pulang supaya Chou tidak nyasar...” katanya. Kanzairu menatap Chou sinis.

“Hm.” Katanya. “Niichan?” panggil Chou pelan, “Kenapa?” tanya Kanzairu cuek, hingga gadis mungil didepannya tertawa kecil. “Niichan kenapa?” tanya Chou sambil bersandar dibahu kiri sang kakak. “Kau tidak menyukainya ‘kan?” tanya Kanzairu pelan. Chou menggeleng pelan hingga senyum simpul terlukis dibibir Kanzairu.

“Baguslah...” katanya. “Chou... tidak akan meninggalkan Niisan ‘kan?” tanya Kanzairu, sang adik bergerak memandang wajah Kanza dengan tatapan tajam namun dengan rona merah dipipinya. “Ke-kenapa Chou?” tanya Kanzairu dengan wajah yang merona pula.

CUP

Seprtinya sang adik yang mulai menyerang diluan. Sang kakak yang tidak akan pernah berfikir kalau hal ini akan dilakukan oleh adik kesayangannya itu hanya tersentak kaget, namun semua itu dia tepis. Terlihat dari caranya membalas kecupan itu. Bibir mereka saling bertabrakan memberikan kesan tersendiri. Kecupan lembut yang berangsur-angsur menjadi kecupan ‘panas’ dan bergelora.

Kanza POV

Kami melakukannya lagi. Berciuman. Entah apa yang mendorongku untuk terus melanjutkannya bersama Chou. Ya. aku sangat lega dengan semua ini.

Akulah yang mendapatkan ciuman pertamanya. Aku juga tidak mengerti ada apa denganku, berawal dari sebuah janji dari seseorang yang telah gagal kulindungi, Okaa-sama. Mungkin dengan menjadikan Chou milikku akan mempermudahku untuk melindunginya.

Aku tau ini semua melanggar hukum. Bahkan mungkin Tuhan juga murka kepadaku. kenyataan yang manis namun cukup menyakitkan.

Ya, aku sudah jatuh cinta dengan adik kandungku sendiri, Chou Fallenstein.

***************

Our worlds are cruel right, Onii-chan? / To be continued

Selasa, 13 September 2011

Our World are Cruel Right, Oniichan?

My first incest story~!
Gara-gara baca Yosuga no sora jadi pengen buad fic incest. Well, walaupun ceritanya -sangat- gaje, harap maklum soalnya shicchi belum pernah buat fiction incest~ pertamanya mau dimasukin ke fandom Naruto tapi… ada baiknya dijadikan ORIFIC saja dulu ==. Tapi ini tetep straight kok, no Yuri or yaoi XD kritik or saran sangat diperlukan m(_ _)m

Yosh cekidot~~!

W A R N I N G
OC, INCEST (a little) abal,
Don’t like don’t read
*
*
*
Title:     Our Worlds are cruel right, Onii-chan?
Genre:  Family/ Romance, a bit horror and tragedy
Rating: T for Teen

*
Dunia kami… tidak seindah dunia kalian… kehidupanku semula sama seperti kalian. Memiliki orangtua, rumah yang nyaman dan damai, dan kehidupan yang tentram.

Tapi ketentraman itu hilang… kedamaian berubah menjadi ketakutan. Ketentraman berubah menjadi sebuah keterpurukan. Aura haus akan membunuh sangat pekat. Bermula dari sebuah perkara.

“Apa?! Para investor membatalkan kerjasama-nya? Berapa investor yang mau menanamkan sahamnya ke perusahaan kita?”

“Sekitar tiga perusahaan. Namun semua itu perusahaan kecil. Sementara semua perusahaan kelas kakap mengetahui kalau perusahaan ini bangkrut langsung mencabut saham mereka kembali.”

“Hhhh… KUSO!!!”

*
“Otou-sama akan pulang sebentar lagi ‘kan, Onii-chan?” seru gadis mungil yang sedang merapikan pita dirambut twin pony tail-nya, Chou Fallenstein.

“Hm.” Hanya itu respond dari sang kakak laki-laki, Kanzairu Fallenstein. Sang adik perempuan melirik sang kakak heran. “Nii-chan, kenapa?” tanya Chou. Kanzairu hanya menggeleng kemudian duduk dibelakang adiknya. “Biar Nii-san rapikan rambutmu,” gumamnya diiringi anggukan Chou.

Suasana sepi sejenak. Hanya ada tangan yang bekerja tanpa mulut berbicara. Sepertinya mereka sudah kehabisan topic pembicaraan. Mereka tetap diam hingga akhirnya…

“Kita sudah bangkrut! Pihak bank akan menyita rumah kita! Dan rentenir sialan itu tidak henti-hentinya menaikkan bunga hutang kita!” teriak seseorang dengan suara berat. Chou bersama Kanzairu tersentak kaget. Kanzairu berdiri kemudian mengintip situasi dari balik kamar.

“Nii-chan…”

“Tetap disitu.” Katanya. Chou hanya mengangguk kemudian menyatukan tangannya seraya menutup matanya. Berdoa semoga masalah ini tidak tambah rumit.

“Anata, kita masih bisa mencari mata pencaharian baru. Bersabarlah…” Kali ini suara lembut terdengar ditelinga Kanzairu. Bisa dipastikan kalau itu suara ibu mereka, Lilynette Fallenstein.

“Aku…” balas suara berat tadi -ayah mereka, Auru Fallenstein. “Akan menyerahkan Chou kepada rentenir itu.” Katanya datar. Black ruby eyes milik Kanzairu dan Chou terbelalak kaget.

“Kau mau apa, Anata! Mau menjual Chou, anak kandungmu?!” teriak Lilynette frustasi. Seringaian tajam terlukis dibibirnya.

Perasaan itu… seketika berubah menjadi kelam.

“Chou sudah berumur 17 tahun. Sudah saatnya dia membantu keuangan keluarga ini.” Katanya. “Lagipula, dengan tubuh seperti itu, dia tidak hanya bisa melunasi hutang dan bunganya. Dia bisa jadi tambang emas buat kita,” ucapnya. Namun sang istri menggeleng mantap. “Dengan cara menjual tubuhnya? Ibu mana yang sanggup melihat anaknya seperti itu!” teriak Lilynette seraya berdiri menghadap suaminya.

“Cih! Kalau begitu kau saja yang akan kuserahkan pada rentenir itu, dasar istri tidak berguna!!” kata Auru menjambak rambut sang istri hingga dia terduduk dilantai.

“Okaa-sama!!!” teriak Kanzairu mulai keluar dari kamar dan berdiri didepan ayahnya. Kali ini Chou yang mengintip dari luar dengan tubuh yang gemetaran.

“Mau apa kau Kanza?” ucap sang ayah dingin. Tatapan benci dari Kanzairu terlihat jelas dengan backing sound suara sendu ibunya yang meronta-ronta untuk melepas cengkraman dirambutnya.

“Kau bukan ayahku…” umpatnya marah. Tangannya sudah terkepal geram. Ayahnya tersenyum sangar. “Ayah hanya membutuhkan adikmu, Chou. Dimana dia?” ucapnya mengacuhkan ucapan Kanzairu.

“Aku tidak akan membiarkan Chou bersama orang keji sepertimu!” ucapnya kasar. Sang ayah mulai naik darah kemudian mengeluarkan pistol dari balik sakunya. “Dasar anak kurang ajar! Dimana adikmu, HAH?!” ucapnya sambil memperkuat cengkraman dirambut sang istri.

“Kyaaaaaaah!!” rintihan Sang Ibu terdengar pilu ditelinga Kanzairu. Matanya sendu melihat sang ibu berusaha melepaskan cengkraman laki-laki yang tak pantas disebut ayah lagi olehnya. Sang ayah menyeringai lagi, “Kau mau melihat Ibumu menderita begini, Kanza?” katanya mengancam.

Gyuuuuuuuut! Lilynette mengigit paha Auru hingga dia mengerang kesakitan -juga melepas cengkramannya. Kaizairu terbelalak kaget melihatnya. Dia memukul kepala Auru dengan vas bunga kemudian menatap Kanzairu cemas.

“Larilah, nak! Ayahmu sudah dibutakan oleh uang! Jaga adikmu!” teriak Lilynette berdiri kemudian mencoba merampas pistol yang digenggam Auru.

“K-kaa-sama!” ucapnya terbata-bata. Tubuhnya tidak mau mengikuti arahannya. Tubuhnya terlalu kaku.

BRUUUK! PLAK!

Cepatlah, Kanza!! Lindungi Chou!” kata Ibunya yang tetap gigih merebut pistol tersebut sekalipun tubuhnya disiksa oleh suaminya sendiri. “LARI, KANZAAA!!” teriak Lilynette lagi.

“DIAM KAU, BODOH!!” kata Auru menendang tubuh Lilynette hingga dia terlempar.

CEKLEK! Pelatuk pistol itu telah ditekan beriringan dengan mulut pistol yang melekat tepat dikening Lilynette. “Kau gila!!” teriak Kanzairu.

“Okaa-samaaaaaaaaaaaaa!!” teriak Chou akhirnya. Dia keluar dari kamar kemudian berdiri disamping Kanzairu. Auru tertawa horror seirama dengan seringaian kemenangan terlukis diwajahnya.

“Chou, anak ayah. Kemari,” katanya pelan. Chou menggeleng takut, tangannya mencengkram bahu Kanzairu dengan kuat. Auru tetap tenang. “Kemarilah, nak. Nyawa ibumu bergantung padamu…” katanya pelan.

“Oka…sama…” ucapnya lirih. Kanzairu menggeleng tanda tidak setuju. “Pergilah, Chou! Jangan kemari.” Kata Lilynette kemudian dihadiahi tamparan yang kesekian kalinya dipipinya. Darah masih setia menemani paras Lilynette. “Kau berisik!!” umpatnya.

“Okaa-samaa!!” teriak Chou hendak berlari mendekati Lilynette namun tangan Kanzairu menangkap tangan Chou. “Jangan.” Ucapnya pelan. “Demo, Okaa-sama…” katanya sambil terisak.

“CHOU!! KAU DENGAR APA KATA IBU?!! CEPAT PERGI DARI SINIII!!!”

“DIAM KAUU!!” Auru kehilangan kesabarannya kemudian mencoba melepaskan pelurunya beriringan dengan Kanzairu yang berlari menuju Auru.

“DAME!! OKAA-SAMA!!”

DOOORRRR!!! Liquid kental membasahi karpet yang semulanya berwarna putih. Sebagian mendarat diwajah sang pembunuh yang tersenyum lebar. Bau anyir tercium menusuk indra penciumannya.

Didepannya…
Mayat sang ibu tergeletak dengan mata dan mulut yang masih terbuka. Kening -sumber dari liquid anyir itu keluar terlihat berlubang.

“Itu hukuman untuk orang yang suka membangkang…” ucapnya sadis. Dan-

DOOR! DOOR! DOOR! Dengan kejinya dia melakukan hal yang sama terhadap korban yang sama. Hanya saja kali ini dia menyerang wajahnya. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Kanzairu yang berada didepan mayat ibunya tidak berkutik.

“HENTIKAN PERBUATANMU, IBLIS!!” ucap Kanzairu meledak seraya memukul wajah Auru.

TLEK! Pitol tersebut jatuh dengan jarak yang cukup jauh. Kanzairu terus menghadiahi pukulan kewajah ayahnya. Tak peduli air mata telah membanjiri wajahnya. Dia tetap memukulinya tanpa belas kasihan.

BRUUK! Auru tergeletak tak sadarkan diri. Kanzairu terengah-engah, dia palingkan wajahnya menuju mayat ibunya -yang sudah tidak terbentuk lagi wajahnya. Bau anyir yang menyengat tidak dia hiraukan lagi.

“Okaa-sama… maafkan aku…” katanya sambil menggenggam tangan Lilynette yang sudah dingin. Chou terduduk lemas dilantai. Airmata sudah membanjiri wajah dan lantai yang dia duduki.

Namun matanya berubah ketika melihat seseorang mencoba mendekati Kanzairu. Ya. Dia Auru, pembunuh Lilynette -istrinya. Kanzairu yang menyadari ayahnya yang keji itu dibelakangnya -dengan sebuah lampu tidur dari kaca ditangannya.

“Kau akan menyusul ibumu ke neraka…” ucapnya sambil melayangkan lampu tersebut menuju kepala Kanzairu. Matanya terpejam, tangannya dia silangkan keatas guna pertahanan diri.

Tapi… dia tidak kunjung datang.

“A-ahh… a-apa..i-ini…” ucap Auru terbata-bata. Matanya melihat perutnya yang juga mengeluarkan darah. Dia memegang perutnya hingga darah itu menempel ditangannya. Dialihkannya wajahnya kebelakang.

“C-chou…” panggil Kanzairu terbata-bata. Dibelakang ayahnya, Auru, sudah ada Chou dengan pecahan vas bunga yang cukup besar. Dan pecahan itu dia tancapkan keperut sang ayah.

“K-kau…”

BRUUUK!!

Auru terjatuh. Dia sudah tidak bernafas. Tubuh Chou bergetar tidak karuan. Dia berlutut menatap tangannya yang berdarah.

“Aku… aku membunuh Otou-sama…” ucapnya gemetar, matanya terbelalak kaget. Dibelakangnya sudah ada Kanzairu yang langsung memeluknya.

“Ssshhh… kau melindungku… kau tidak bersalah, Chou…” kata Kanzairu menenangkan Chou. Kemudian dia menggendong Chou menuju sofa.

“Nii-san mau telfon polisi dulu. Chou, tetaplah disini.” Katanya. Setelah Chou mengangguk Kanzairu meninggalkannya.

To be continue