Jumat, 23 September 2011

Our World are cruel right, Oniichan? part II

Our worlds are cruel right, Oniichan?
*
*
*
Lelaki itu mengelilingi rumahnya yang baru. Walaupun tidak cukup besar seperti rumahnya yang lama, sepertinya dia tidak keberatan samasekali. Kemudian dia menapaki kakinya menuju lantai dua. Matanya tertuju pada sebuah pintu kayu jati dengan ukiran berupa malaikat.

“Kanza…” panggil wanita separuh baya yang berdiri dibelakangnya, Kanazuki Fallenstein. Lelaki beridentitas Kanzairu Fallenstein itu menoleh. Wanita separuh baya itu mendekatinya.

“Polisi mengatakan kalau Chou tidak bersalah. Dan Chou sudah dibebaskan dari tuduhan…” kata wanita itu. Kanzairu mengangguk. “Arigato, Obaa-san.” Katanya singkat, kemudian dia memutar knop pintu yang dia pandangi tadi.

“Chou…”

Chapter #2; is it…. Forbidden?

*
*
Ruangan tersebut tidak terlalu terang. Ternyata dia hanya menyalakan lampu tidur. Black ruby eyes itu memandang seorang gadis kecil sedang tidur hingga akhirnya dia duduk ditepi ranjangnya.

“Nii-chan?” panggil Chou setelah black ruby eyes miliknya terbuka. Kanzairu hanya tersenyum membelai rambut Chou. “Bagaimana perasaanmu?” tanya Kanzairu, sang adik hanya tersenyum simpul kemudian duduk berhadapan dengan sang kakak.

“Obaa-san sudah pulang?” tanya Chou, dia mengangguk kemudian memeluk Chou. “N-niichan? Ada apa?” tanya Chou kaget namun tidak memeluknya kembali. “Niisan janji…” ucapnya terputus ketika Chou bergumam kecil, “Niisan akan menjagamu, Chou.” Katanya sambil membingkai kedua pipi Chou.

“Ii darou…” kata Chou membelai tangan Kanzairu yang membingkainya. “Niichan sudah menjaga Chou selama ini…” katanya sambil tersenyum. Kanzairu menatapnya sendu. “Aku sudah gagal menjaga Okaa-sama...” katanya pelan. Chou menunduk.

“Masih ada Chou disini~” katanya sambil tersenyum. Kanzairu tersenyum miris, mata Chou terbelalak kaget ketika sang kakak mengecup bibir merahnya sesaat.

“N-niichan…” katanya kaget kemudian memegang bibirnya, keterkejutannya bertambah satu lagi ketika Kanzairu tiba-tiba memeluknya erat. “Niisan menyayangimu, Chou…” katanya. Chou membalas pelukan tersebut, “Chou juga Niichan…” katanya tersenyum.

If this is love, I want to wear it on my sleeve
The ‘strange feeling’ turns into an unbearable longing
I would follow you to the end of forever
*
*
“Kau yakin tidak mau tinggal bersama kami?” tanya Kanazuki. Kanzairu hanya menggeleng pelan. “Tidak… aku masih bisa menghidupi Chou sendirian…” katanya tersenyum simpul. Kanazuki menghela nafas berat.

“Kau yakin, Kanza?” tanya Kanazuki. Kecemasan terukir jelas diwajahnya. Apalagi ketika melihat Kanzairu mengangguk dengan pasti, dia tetap cemas. “Hhhh… jika kalian membutuhkan sesuatu, hubungi saja kami.” Hanya itu yang bisa dia katakan.

“Tapi… tapi Chou mau tinggal bersama Kana-baa-san…” rengek Chou sambil mengguncang lengan Kanzairu. “Tidak bisa…” katanya hingga Chou menunduk lesu. “Kanza… kamu mau membiarkan Chou sendirian?” tanya Kanazuki. “Tidak. Hanya aku yang bisa menjaga Chou…” katanya miris. Kanazuki menggigit bibir bawahnya.

“Chou sudah aku anggap seperti anakku sendiri… aku yakin dia akan baik-baik saja tinggal disini,” ungkap Kanazuki meyakinkan. “Niichan… Chou ingin tinggal dengan Kana-baasan…” katanya membujuk Kanzairu. “Hhhh… baiklah.” Katanya.

“Arigato Niichaaan~” katanya kemudian mencium pipi Kanzairu kemudian pergi dari tempat itu. “Hah?” Kanazuki melihatnya kaget kemudian menatap Kanzairu. “Apa kalian sering melakukan hal itu?” tanya Kanazuki. “Maksudnya?” tanya Kanzairu tidak mengerti.

“Kalian sering berciuman seperti itu?” tanya Kanazuki. Kanzairu mengeryitkan keningnya. “Ada yang salah dengan itu?” tanya Kanzairu lagi. Kanazuki menghela nafas berat. “Ada. Kalian itu saudara kandung, tidak pantas berbuat seperti itu.” katanya, Kanzairu mengepalkan tangannya.

“Kami… tau itu.” Katanya pelan, “Dan aku hanya menganggap itu sebagai ciuman sayang antara adik ke kakaknya,” katanya. Kanazuki mengerutkan matanya. “Benar hanya itu?” tanya Kanazuki diiringi anggukan ragu dari Kanzairu. “Baguslah. Tapi kuharap kalian segera menghentikan kejadian seperti tadi,” katanya. Kanzairu hanya terdiam.

“Kau tidak akan selamanya berada disisinya. Suatu saat Chou akan menikah, begitu juga denganmu, Kanza.” Katanya. “Hn.” Hanya itu yang dia katakan.

*
*
Tok…Tok..

“Chou?” panggil Kanzairu setelah memutar knop pintu tersebut. Terlihat disitu Chou sedang membereskan baju-bajunya. “Iya, Niichan…” katanya masih sibuk dengan perkerjaannya. Kanzairu duduk ditepi ranjangnya, sementara Chou ada dibawahnya sambil bersenandung ria.

“Sepertinya kau sangat senang ya…” gumam Kanza pelan. Chou mendongakkan kepalanya dan tersenyum senang. “Tentu saja, sekarang Chou tidak akan kesepian lagi…” katanya. Kanzairu tersenyum getir.

“Chou baik-baik saja… jika Niisan tidak disini?” tanya Kanzairu pelan. Chou mendadak berhenti kemudian menatap Kanzairu heran. “Niichan mau kemana?” tanya Chou dengan nada takut namun dibalas dengan gelengan darinya. “Hanya memastikan…” katanya tersenyum.

 “Hiks… hiks…” Kanzairu tersentak ketika Chou memeluknya dan menangis. “Niichan jangan pergi…” ucapnya dengan nada bergetar seirama dengan bahunya yang berguncang. Disisi lain, Kanzairu tersenyum kemenangan.

“Chou milikku...” gumamnya pelan. Chou menatap sang kakak dengan heran. “Niichan berkata sesuatu?” katanya diiringi gelengan Kanzairu. “Niisan tidak akan kemana-mana,” katanya memeluk Chou lagi, namun kali ini penuh perasaan.

“Chou sayang Niisan?” tanya Kanzairu sambil membelai rambut belakang sang adik, indra penciumannya menghirup wangi lavender dari tubuh sang adik. “Chou selalu sayang Niichan…” katanya.  Kanzairu hanya tersenyum simpul.

~~Ashita~~

“Chou...” panggil Kanzairu setelah memutar knop pintu. Setelah menjelajahi seluruh ruangan, Chou tidak ada ditempat. Mungkin karena masih pagi, pikirnya hingga dia melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Sudah ada bibinya, Kanazuki dengan saminya sedang bercengkrama.

“Ohayou, Kanza...” ucap sang bibi. Kanzairu mengangguk malas sambil duduk dihadapan mereka. Orang yang dia cari ternyata tidak ada ditempat. “Mana Chou?” tanya Kanzairu menatap Bibi dan Pamannya heran.

“Ahhh... tentu saja dia sedang belajar disekolah, bibi lupa mengatakan padamu kalau dia sudah bibi daftarkan kesekolah dekat sini,” katanya sambil menyeruput tehnya. Kanzairu mengangguk, “Dengan siapa?” tanya Kanzairu lagi. “Dengan temannya, kebetulan tetangga dekat sini punya anak yang bersekolah disana,” jelas Kanazuki. Sekali lagi, Kanzairu mengangguk.

“Kau juga akan belajar di perguruan tinggi, yang letakknya tidak jauh dari sekolah tersebut. Jadi kamu bisa mengantar-jemput Chou,” katanya.

“Baiklah. Aku tidak keberatan,” katanya.

Skip time_ Kanzairu terdiam dikamar dengan sebuah buku ditangannya. Fikirannya sudah tidak focus lagi terhadap buku yang ada didepannya. Dia memikirkan gadis yang selalu bersamanya. Hampir delapan jam dia tidak melihat Chou. Matanya menerawang melalui jendela kamarnya dilantai dua, hingga akhirnya dia melihat sesuatu dibawah sana.

Dia melihat Chou pulang dengan seorang pria disampingnya. Sepertinya itu anak yang dimaksud bibi Kanazuki tadi, tapi... dia tidak mengatakan kalau anak yang dimaksud itu laki-laki! Pikirnya emosi.

Kanzairu berjalan menuju kamar Chou. Dia melihat gadis itu baru masuk kedalam kamarnya. “Chou!” panggil Kanzairu mengagetkannya. “Niichan... kau mengagetkanku...” katanya sambil memegang dadanya.

“Siapa dia?” tanya Kanzairu sinis, Chou mengeryitkan keningnya tidak mengerti. “Laki-laki yang mengantarmu pulang,” jelas Kanzairu lagi. Chou ber ‘aahh’ ria. “Dia hanya teman sekolah, karena rumahnya dekat dengan kita, dia antar Chou pulang supaya Chou tidak nyasar...” katanya. Kanzairu menatap Chou sinis.

“Hm.” Katanya. “Niichan?” panggil Chou pelan, “Kenapa?” tanya Kanzairu cuek, hingga gadis mungil didepannya tertawa kecil. “Niichan kenapa?” tanya Chou sambil bersandar dibahu kiri sang kakak. “Kau tidak menyukainya ‘kan?” tanya Kanzairu pelan. Chou menggeleng pelan hingga senyum simpul terlukis dibibir Kanzairu.

“Baguslah...” katanya. “Chou... tidak akan meninggalkan Niisan ‘kan?” tanya Kanzairu, sang adik bergerak memandang wajah Kanza dengan tatapan tajam namun dengan rona merah dipipinya. “Ke-kenapa Chou?” tanya Kanzairu dengan wajah yang merona pula.

CUP

Seprtinya sang adik yang mulai menyerang diluan. Sang kakak yang tidak akan pernah berfikir kalau hal ini akan dilakukan oleh adik kesayangannya itu hanya tersentak kaget, namun semua itu dia tepis. Terlihat dari caranya membalas kecupan itu. Bibir mereka saling bertabrakan memberikan kesan tersendiri. Kecupan lembut yang berangsur-angsur menjadi kecupan ‘panas’ dan bergelora.

Kanza POV

Kami melakukannya lagi. Berciuman. Entah apa yang mendorongku untuk terus melanjutkannya bersama Chou. Ya. aku sangat lega dengan semua ini.

Akulah yang mendapatkan ciuman pertamanya. Aku juga tidak mengerti ada apa denganku, berawal dari sebuah janji dari seseorang yang telah gagal kulindungi, Okaa-sama. Mungkin dengan menjadikan Chou milikku akan mempermudahku untuk melindunginya.

Aku tau ini semua melanggar hukum. Bahkan mungkin Tuhan juga murka kepadaku. kenyataan yang manis namun cukup menyakitkan.

Ya, aku sudah jatuh cinta dengan adik kandungku sendiri, Chou Fallenstein.

***************

Our worlds are cruel right, Onii-chan? / To be continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar