Our worlds are cruel right, Oniichan?
*
*
*
Lelaki itu mengelilingi rumahnya yang baru. Walaupun tidak cukup besar seperti rumahnya yang lama, sepertinya dia tidak keberatan samasekali. Kemudian dia menapaki kakinya menuju lantai dua. Matanya tertuju pada sebuah pintu kayu jati dengan ukiran berupa malaikat.
“Kanza…” panggil wanita separuh baya yang berdiri dibelakangnya, Kanazuki Fallenstein. Lelaki beridentitas Kanzairu Fallenstein itu menoleh. Wanita separuh baya itu mendekatinya.
“Polisi mengatakan kalau Chou tidak bersalah. Dan Chou sudah dibebaskan dari tuduhan…” kata wanita itu. Kanzairu mengangguk. “Arigato, Obaa-san.” Katanya singkat, kemudian dia memutar knop pintu yang dia pandangi tadi.
“Chou…”
Chapter #2; is it…. Forbidden?
*
*
Ruangan tersebut tidak terlalu terang. Ternyata dia hanya menyalakan lampu tidur. Black ruby eyes itu memandang seorang gadis kecil sedang tidur hingga akhirnya dia duduk ditepi ranjangnya.
“Nii-chan?” panggil Chou setelah black ruby eyes miliknya terbuka. Kanzairu hanya tersenyum membelai rambut Chou. “Bagaimana perasaanmu?” tanya Kanzairu, sang adik hanya tersenyum simpul kemudian duduk berhadapan dengan sang kakak.
“Obaa-san sudah pulang?” tanya Chou, dia mengangguk kemudian memeluk Chou. “N-niichan? Ada apa?” tanya Chou kaget namun tidak memeluknya kembali. “Niisan janji…” ucapnya terputus ketika Chou bergumam kecil, “Niisan akan menjagamu, Chou.” Katanya sambil membingkai kedua pipi Chou.
“Ii darou…” kata Chou membelai tangan Kanzairu yang membingkainya. “Niichan sudah menjaga Chou selama ini…” katanya sambil tersenyum. Kanzairu menatapnya sendu. “Aku sudah gagal menjaga Okaa-sama...” katanya pelan. Chou menunduk.
“Masih ada Chou disini~” katanya sambil tersenyum. Kanzairu tersenyum miris, mata Chou terbelalak kaget ketika sang kakak mengecup bibir merahnya sesaat.
“N-niichan…” katanya kaget kemudian memegang bibirnya, keterkejutannya bertambah satu lagi ketika Kanzairu tiba-tiba memeluknya erat. “Niisan menyayangimu, Chou…” katanya. Chou membalas pelukan tersebut, “Chou juga Niichan…” katanya tersenyum.
If this is love, I want to wear it on my sleeve
The ‘strange feeling’ turns into an unbearable longing
I would follow you to the end of forever
*
*
“Kau yakin tidak mau tinggal bersama kami?” tanya Kanazuki. Kanzairu hanya menggeleng pelan. “Tidak… aku masih bisa menghidupi Chou sendirian…” katanya tersenyum simpul. Kanazuki menghela nafas berat.
“Kau yakin, Kanza?” tanya Kanazuki. Kecemasan terukir jelas diwajahnya. Apalagi ketika melihat Kanzairu mengangguk dengan pasti, dia tetap cemas. “Hhhh… jika kalian membutuhkan sesuatu, hubungi saja kami.” Hanya itu yang bisa dia katakan.
“Tapi… tapi Chou mau tinggal bersama Kana-baa-san…” rengek Chou sambil mengguncang lengan Kanzairu. “Tidak bisa…” katanya hingga Chou menunduk lesu. “Kanza… kamu mau membiarkan Chou sendirian?” tanya Kanazuki. “Tidak. Hanya aku yang bisa menjaga Chou…” katanya miris. Kanazuki menggigit bibir bawahnya.
“Chou sudah aku anggap seperti anakku sendiri… aku yakin dia akan baik-baik saja tinggal disini,” ungkap Kanazuki meyakinkan. “Niichan… Chou ingin tinggal dengan Kana-baasan…” katanya membujuk Kanzairu. “Hhhh… baiklah.” Katanya.
“Arigato Niichaaan~” katanya kemudian mencium pipi Kanzairu kemudian pergi dari tempat itu. “Hah?” Kanazuki melihatnya kaget kemudian menatap Kanzairu. “Apa kalian sering melakukan hal itu?” tanya Kanazuki. “Maksudnya?” tanya Kanzairu tidak mengerti.
“Kalian sering berciuman seperti itu?” tanya Kanazuki. Kanzairu mengeryitkan keningnya. “Ada yang salah dengan itu?” tanya Kanzairu lagi. Kanazuki menghela nafas berat. “Ada. Kalian itu saudara kandung, tidak pantas berbuat seperti itu.” katanya, Kanzairu mengepalkan tangannya.
“Kami… tau itu.” Katanya pelan, “Dan aku hanya menganggap itu sebagai ciuman sayang antara adik ke kakaknya,” katanya. Kanazuki mengerutkan matanya. “Benar hanya itu?” tanya Kanazuki diiringi anggukan ragu dari Kanzairu. “Baguslah. Tapi kuharap kalian segera menghentikan kejadian seperti tadi,” katanya. Kanzairu hanya terdiam.
“Kau tidak akan selamanya berada disisinya. Suatu saat Chou akan menikah, begitu juga denganmu, Kanza.” Katanya. “Hn.” Hanya itu yang dia katakan.
*
*
Tok…Tok..
“Chou?” panggil Kanzairu setelah memutar knop pintu tersebut. Terlihat disitu Chou sedang membereskan baju-bajunya. “Iya, Niichan…” katanya masih sibuk dengan perkerjaannya. Kanzairu duduk ditepi ranjangnya, sementara Chou ada dibawahnya sambil bersenandung ria.
“Sepertinya kau sangat senang ya…” gumam Kanza pelan. Chou mendongakkan kepalanya dan tersenyum senang. “Tentu saja, sekarang Chou tidak akan kesepian lagi…” katanya. Kanzairu tersenyum getir.
“Chou baik-baik saja… jika Niisan tidak disini?” tanya Kanzairu pelan. Chou mendadak berhenti kemudian menatap Kanzairu heran. “Niichan mau kemana?” tanya Chou dengan nada takut namun dibalas dengan gelengan darinya. “Hanya memastikan…” katanya tersenyum.
“Hiks… hiks…” Kanzairu tersentak ketika Chou memeluknya dan menangis. “Niichan jangan pergi…” ucapnya dengan nada bergetar seirama dengan bahunya yang berguncang. Disisi lain, Kanzairu tersenyum kemenangan.
“Chou milikku...” gumamnya pelan. Chou menatap sang kakak dengan heran. “Niichan berkata sesuatu?” katanya diiringi gelengan Kanzairu. “Niisan tidak akan kemana-mana,” katanya memeluk Chou lagi, namun kali ini penuh perasaan.
“Chou sayang Niisan?” tanya Kanzairu sambil membelai rambut belakang sang adik, indra penciumannya menghirup wangi lavender dari tubuh sang adik. “Chou selalu sayang Niichan…” katanya. Kanzairu hanya tersenyum simpul.
~~Ashita~~
“Chou...” panggil Kanzairu setelah memutar knop pintu. Setelah menjelajahi seluruh ruangan, Chou tidak ada ditempat. Mungkin karena masih pagi, pikirnya hingga dia melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Sudah ada bibinya, Kanazuki dengan saminya sedang bercengkrama.
“Ohayou, Kanza...” ucap sang bibi. Kanzairu mengangguk malas sambil duduk dihadapan mereka. Orang yang dia cari ternyata tidak ada ditempat. “Mana Chou?” tanya Kanzairu menatap Bibi dan Pamannya heran.
“Ahhh... tentu saja dia sedang belajar disekolah, bibi lupa mengatakan padamu kalau dia sudah bibi daftarkan kesekolah dekat sini,” katanya sambil menyeruput tehnya. Kanzairu mengangguk, “Dengan siapa?” tanya Kanzairu lagi. “Dengan temannya, kebetulan tetangga dekat sini punya anak yang bersekolah disana,” jelas Kanazuki. Sekali lagi, Kanzairu mengangguk.
“Kau juga akan belajar di perguruan tinggi, yang letakknya tidak jauh dari sekolah tersebut. Jadi kamu bisa mengantar-jemput Chou,” katanya.
“Baiklah. Aku tidak keberatan,” katanya.
Skip time_ Kanzairu terdiam dikamar dengan sebuah buku ditangannya. Fikirannya sudah tidak focus lagi terhadap buku yang ada didepannya. Dia memikirkan gadis yang selalu bersamanya. Hampir delapan jam dia tidak melihat Chou. Matanya menerawang melalui jendela kamarnya dilantai dua, hingga akhirnya dia melihat sesuatu dibawah sana.
Dia melihat Chou pulang dengan seorang pria disampingnya. Sepertinya itu anak yang dimaksud bibi Kanazuki tadi, tapi... dia tidak mengatakan kalau anak yang dimaksud itu laki-laki! Pikirnya emosi.
Kanzairu berjalan menuju kamar Chou. Dia melihat gadis itu baru masuk kedalam kamarnya. “Chou!” panggil Kanzairu mengagetkannya. “Niichan... kau mengagetkanku...” katanya sambil memegang dadanya.
“Siapa dia?” tanya Kanzairu sinis, Chou mengeryitkan keningnya tidak mengerti. “Laki-laki yang mengantarmu pulang,” jelas Kanzairu lagi. Chou ber ‘aahh’ ria. “Dia hanya teman sekolah, karena rumahnya dekat dengan kita, dia antar Chou pulang supaya Chou tidak nyasar...” katanya. Kanzairu menatap Chou sinis.
“Hm.” Katanya. “Niichan?” panggil Chou pelan, “Kenapa?” tanya Kanzairu cuek, hingga gadis mungil didepannya tertawa kecil. “Niichan kenapa?” tanya Chou sambil bersandar dibahu kiri sang kakak. “Kau tidak menyukainya ‘kan?” tanya Kanzairu pelan. Chou menggeleng pelan hingga senyum simpul terlukis dibibir Kanzairu.
“Baguslah...” katanya. “Chou... tidak akan meninggalkan Niisan ‘kan?” tanya Kanzairu, sang adik bergerak memandang wajah Kanza dengan tatapan tajam namun dengan rona merah dipipinya. “Ke-kenapa Chou?” tanya Kanzairu dengan wajah yang merona pula.
CUP
Seprtinya sang adik yang mulai menyerang diluan. Sang kakak yang tidak akan pernah berfikir kalau hal ini akan dilakukan oleh adik kesayangannya itu hanya tersentak kaget, namun semua itu dia tepis. Terlihat dari caranya membalas kecupan itu. Bibir mereka saling bertabrakan memberikan kesan tersendiri. Kecupan lembut yang berangsur-angsur menjadi kecupan ‘panas’ dan bergelora.
Kanza POV
Kami melakukannya lagi. Berciuman. Entah apa yang mendorongku untuk terus melanjutkannya bersama Chou. Ya. aku sangat lega dengan semua ini.
Akulah yang mendapatkan ciuman pertamanya. Aku juga tidak mengerti ada apa denganku, berawal dari sebuah janji dari seseorang yang telah gagal kulindungi, Okaa-sama. Mungkin dengan menjadikan Chou milikku akan mempermudahku untuk melindunginya.
Aku tau ini semua melanggar hukum. Bahkan mungkin Tuhan juga murka kepadaku. kenyataan yang manis namun cukup menyakitkan.
Ya, aku sudah jatuh cinta dengan adik kandungku sendiri, Chou Fallenstein.
***************
Our worlds are cruel right, Onii-chan? / To be continued
Jumat, 23 September 2011
Selasa, 13 September 2011
Our World are Cruel Right, Oniichan?
My first incest story~!
Gara-gara baca Yosuga no sora jadi pengen buad fic incest. Well, walaupun ceritanya -sangat- gaje, harap maklum soalnya shicchi belum pernah buat fiction incest~ pertamanya mau dimasukin ke fandom Naruto tapi… ada baiknya dijadikan ORIFIC saja dulu ==. Tapi ini tetep straight kok, no Yuri or yaoi XD kritik or saran sangat diperlukan m(_ _)m
Yosh cekidot~~!
W A R N I N G
OC, INCEST (a little) abal,
Don’t like don’t read
*
*
*
Title: Our Worlds are cruel right, Onii-chan?
Genre: Family/ Romance, a bit horror and tragedy
Rating: T for Teen
*
Dunia kami… tidak seindah dunia kalian… kehidupanku semula sama seperti kalian. Memiliki orangtua, rumah yang nyaman dan damai, dan kehidupan yang tentram.
Tapi ketentraman itu hilang… kedamaian berubah menjadi ketakutan. Ketentraman berubah menjadi sebuah keterpurukan. Aura haus akan membunuh sangat pekat. Bermula dari sebuah perkara.
“Apa?! Para investor membatalkan kerjasama-nya? Berapa investor yang mau menanamkan sahamnya ke perusahaan kita?”
“Sekitar tiga perusahaan. Namun semua itu perusahaan kecil. Sementara semua perusahaan kelas kakap mengetahui kalau perusahaan ini bangkrut langsung mencabut saham mereka kembali.”
“Hhhh… KUSO!!!”
*
“Otou-sama akan pulang sebentar lagi ‘kan, Onii-chan?” seru gadis mungil yang sedang merapikan pita dirambut twin pony tail-nya, Chou Fallenstein.
“Hm.” Hanya itu respond dari sang kakak laki-laki, Kanzairu Fallenstein. Sang adik perempuan melirik sang kakak heran. “Nii-chan, kenapa?” tanya Chou. Kanzairu hanya menggeleng kemudian duduk dibelakang adiknya. “Biar Nii-san rapikan rambutmu,” gumamnya diiringi anggukan Chou.
Suasana sepi sejenak. Hanya ada tangan yang bekerja tanpa mulut berbicara. Sepertinya mereka sudah kehabisan topic pembicaraan. Mereka tetap diam hingga akhirnya…
“Kita sudah bangkrut! Pihak bank akan menyita rumah kita! Dan rentenir sialan itu tidak henti-hentinya menaikkan bunga hutang kita!” teriak seseorang dengan suara berat. Chou bersama Kanzairu tersentak kaget. Kanzairu berdiri kemudian mengintip situasi dari balik kamar.
“Nii-chan…”
“Tetap disitu.” Katanya. Chou hanya mengangguk kemudian menyatukan tangannya seraya menutup matanya. Berdoa semoga masalah ini tidak tambah rumit.
“Anata, kita masih bisa mencari mata pencaharian baru. Bersabarlah…” Kali ini suara lembut terdengar ditelinga Kanzairu. Bisa dipastikan kalau itu suara ibu mereka, Lilynette Fallenstein.
“Aku…” balas suara berat tadi -ayah mereka, Auru Fallenstein. “Akan menyerahkan Chou kepada rentenir itu.” Katanya datar. Black ruby eyes milik Kanzairu dan Chou terbelalak kaget.
“Kau mau apa, Anata! Mau menjual Chou, anak kandungmu?!” teriak Lilynette frustasi. Seringaian tajam terlukis dibibirnya.
Perasaan itu… seketika berubah menjadi kelam.
“Chou sudah berumur 17 tahun. Sudah saatnya dia membantu keuangan keluarga ini.” Katanya. “Lagipula, dengan tubuh seperti itu, dia tidak hanya bisa melunasi hutang dan bunganya. Dia bisa jadi tambang emas buat kita,” ucapnya. Namun sang istri menggeleng mantap. “Dengan cara menjual tubuhnya? Ibu mana yang sanggup melihat anaknya seperti itu!” teriak Lilynette seraya berdiri menghadap suaminya.
“Cih! Kalau begitu kau saja yang akan kuserahkan pada rentenir itu, dasar istri tidak berguna!!” kata Auru menjambak rambut sang istri hingga dia terduduk dilantai.
“Okaa-sama!!!” teriak Kanzairu mulai keluar dari kamar dan berdiri didepan ayahnya. Kali ini Chou yang mengintip dari luar dengan tubuh yang gemetaran.
“Mau apa kau Kanza?” ucap sang ayah dingin. Tatapan benci dari Kanzairu terlihat jelas dengan backing sound suara sendu ibunya yang meronta-ronta untuk melepas cengkraman dirambutnya.
“Kau bukan ayahku…” umpatnya marah. Tangannya sudah terkepal geram. Ayahnya tersenyum sangar. “Ayah hanya membutuhkan adikmu, Chou. Dimana dia?” ucapnya mengacuhkan ucapan Kanzairu.
“Aku tidak akan membiarkan Chou bersama orang keji sepertimu!” ucapnya kasar. Sang ayah mulai naik darah kemudian mengeluarkan pistol dari balik sakunya. “Dasar anak kurang ajar! Dimana adikmu, HAH?!” ucapnya sambil memperkuat cengkraman dirambut sang istri.
“Kyaaaaaaah!!” rintihan Sang Ibu terdengar pilu ditelinga Kanzairu. Matanya sendu melihat sang ibu berusaha melepaskan cengkraman laki-laki yang tak pantas disebut ayah lagi olehnya. Sang ayah menyeringai lagi, “Kau mau melihat Ibumu menderita begini, Kanza?” katanya mengancam.
Gyuuuuuuuut! Lilynette mengigit paha Auru hingga dia mengerang kesakitan -juga melepas cengkramannya. Kaizairu terbelalak kaget melihatnya. Dia memukul kepala Auru dengan vas bunga kemudian menatap Kanzairu cemas.
“Larilah, nak! Ayahmu sudah dibutakan oleh uang! Jaga adikmu!” teriak Lilynette berdiri kemudian mencoba merampas pistol yang digenggam Auru.
“K-kaa-sama!” ucapnya terbata-bata. Tubuhnya tidak mau mengikuti arahannya. Tubuhnya terlalu kaku.
BRUUUK! PLAK!
“Cepatlah, Kanza!! Lindungi Chou!” kata Ibunya yang tetap gigih merebut pistol tersebut sekalipun tubuhnya disiksa oleh suaminya sendiri. “LARI, KANZAAA!!” teriak Lilynette lagi.
“DIAM KAU, BODOH!!” kata Auru menendang tubuh Lilynette hingga dia terlempar.
CEKLEK! Pelatuk pistol itu telah ditekan beriringan dengan mulut pistol yang melekat tepat dikening Lilynette. “Kau gila!!” teriak Kanzairu.
“Okaa-samaaaaaaaaaaaaa!!” teriak Chou akhirnya. Dia keluar dari kamar kemudian berdiri disamping Kanzairu. Auru tertawa horror seirama dengan seringaian kemenangan terlukis diwajahnya.
“Chou, anak ayah. Kemari,” katanya pelan. Chou menggeleng takut, tangannya mencengkram bahu Kanzairu dengan kuat. Auru tetap tenang. “Kemarilah, nak. Nyawa ibumu bergantung padamu…” katanya pelan.
“Oka…sama…” ucapnya lirih. Kanzairu menggeleng tanda tidak setuju. “Pergilah, Chou! Jangan kemari.” Kata Lilynette kemudian dihadiahi tamparan yang kesekian kalinya dipipinya. Darah masih setia menemani paras Lilynette. “Kau berisik!!” umpatnya.
“Okaa-samaa!!” teriak Chou hendak berlari mendekati Lilynette namun tangan Kanzairu menangkap tangan Chou. “Jangan.” Ucapnya pelan. “Demo, Okaa-sama…” katanya sambil terisak.
“CHOU!! KAU DENGAR APA KATA IBU?!! CEPAT PERGI DARI SINIII!!!”
“DIAM KAUU!!” Auru kehilangan kesabarannya kemudian mencoba melepaskan pelurunya beriringan dengan Kanzairu yang berlari menuju Auru.
“DAME!! OKAA-SAMA!!”
DOOORRRR!!! Liquid kental membasahi karpet yang semulanya berwarna putih. Sebagian mendarat diwajah sang pembunuh yang tersenyum lebar. Bau anyir tercium menusuk indra penciumannya.
Didepannya…
Mayat sang ibu tergeletak dengan mata dan mulut yang masih terbuka. Kening -sumber dari liquid anyir itu keluar terlihat berlubang.
“Itu hukuman untuk orang yang suka membangkang…” ucapnya sadis. Dan-
DOOR! DOOR! DOOR! Dengan kejinya dia melakukan hal yang sama terhadap korban yang sama. Hanya saja kali ini dia menyerang wajahnya. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Kanzairu yang berada didepan mayat ibunya tidak berkutik.
“HENTIKAN PERBUATANMU, IBLIS!!” ucap Kanzairu meledak seraya memukul wajah Auru.
TLEK! Pitol tersebut jatuh dengan jarak yang cukup jauh. Kanzairu terus menghadiahi pukulan kewajah ayahnya. Tak peduli air mata telah membanjiri wajahnya. Dia tetap memukulinya tanpa belas kasihan.
BRUUK! Auru tergeletak tak sadarkan diri. Kanzairu terengah-engah, dia palingkan wajahnya menuju mayat ibunya -yang sudah tidak terbentuk lagi wajahnya. Bau anyir yang menyengat tidak dia hiraukan lagi.
“Okaa-sama… maafkan aku…” katanya sambil menggenggam tangan Lilynette yang sudah dingin. Chou terduduk lemas dilantai. Airmata sudah membanjiri wajah dan lantai yang dia duduki.
Namun matanya berubah ketika melihat seseorang mencoba mendekati Kanzairu. Ya. Dia Auru, pembunuh Lilynette -istrinya. Kanzairu yang menyadari ayahnya yang keji itu dibelakangnya -dengan sebuah lampu tidur dari kaca ditangannya.
“Kau akan menyusul ibumu ke neraka…” ucapnya sambil melayangkan lampu tersebut menuju kepala Kanzairu. Matanya terpejam, tangannya dia silangkan keatas guna pertahanan diri.
Tapi… dia tidak kunjung datang.
“A-ahh… a-apa..i-ini…” ucap Auru terbata-bata. Matanya melihat perutnya yang juga mengeluarkan darah. Dia memegang perutnya hingga darah itu menempel ditangannya. Dialihkannya wajahnya kebelakang.
“C-chou…” panggil Kanzairu terbata-bata. Dibelakang ayahnya, Auru, sudah ada Chou dengan pecahan vas bunga yang cukup besar. Dan pecahan itu dia tancapkan keperut sang ayah.
“K-kau…”
BRUUUK!!
Auru terjatuh. Dia sudah tidak bernafas. Tubuh Chou bergetar tidak karuan. Dia berlutut menatap tangannya yang berdarah.
“Aku… aku membunuh Otou-sama…” ucapnya gemetar, matanya terbelalak kaget. Dibelakangnya sudah ada Kanzairu yang langsung memeluknya.
“Ssshhh… kau melindungku… kau tidak bersalah, Chou…” kata Kanzairu menenangkan Chou. Kemudian dia menggendong Chou menuju sofa.
“Nii-san mau telfon polisi dulu. Chou, tetaplah disini.” Katanya. Setelah Chou mengangguk Kanzairu meninggalkannya.
To be continue
Gara-gara baca Yosuga no sora jadi pengen buad fic incest. Well, walaupun ceritanya -sangat- gaje, harap maklum soalnya shicchi belum pernah buat fiction incest~ pertamanya mau dimasukin ke fandom Naruto tapi… ada baiknya dijadikan ORIFIC saja dulu ==. Tapi ini tetep straight kok, no Yuri or yaoi XD kritik or saran sangat diperlukan m(_ _)m
Yosh cekidot~~!
W A R N I N G
OC, INCEST (a little) abal,
Don’t like don’t read
*
*
*
Title: Our Worlds are cruel right, Onii-chan?
Genre: Family/ Romance, a bit horror and tragedy
Rating: T for Teen
*
Dunia kami… tidak seindah dunia kalian… kehidupanku semula sama seperti kalian. Memiliki orangtua, rumah yang nyaman dan damai, dan kehidupan yang tentram.
Tapi ketentraman itu hilang… kedamaian berubah menjadi ketakutan. Ketentraman berubah menjadi sebuah keterpurukan. Aura haus akan membunuh sangat pekat. Bermula dari sebuah perkara.
“Apa?! Para investor membatalkan kerjasama-nya? Berapa investor yang mau menanamkan sahamnya ke perusahaan kita?”
“Sekitar tiga perusahaan. Namun semua itu perusahaan kecil. Sementara semua perusahaan kelas kakap mengetahui kalau perusahaan ini bangkrut langsung mencabut saham mereka kembali.”
“Hhhh… KUSO!!!”
*
“Otou-sama akan pulang sebentar lagi ‘kan, Onii-chan?” seru gadis mungil yang sedang merapikan pita dirambut twin pony tail-nya, Chou Fallenstein.
“Hm.” Hanya itu respond dari sang kakak laki-laki, Kanzairu Fallenstein. Sang adik perempuan melirik sang kakak heran. “Nii-chan, kenapa?” tanya Chou. Kanzairu hanya menggeleng kemudian duduk dibelakang adiknya. “Biar Nii-san rapikan rambutmu,” gumamnya diiringi anggukan Chou.
Suasana sepi sejenak. Hanya ada tangan yang bekerja tanpa mulut berbicara. Sepertinya mereka sudah kehabisan topic pembicaraan. Mereka tetap diam hingga akhirnya…
“Kita sudah bangkrut! Pihak bank akan menyita rumah kita! Dan rentenir sialan itu tidak henti-hentinya menaikkan bunga hutang kita!” teriak seseorang dengan suara berat. Chou bersama Kanzairu tersentak kaget. Kanzairu berdiri kemudian mengintip situasi dari balik kamar.
“Nii-chan…”
“Tetap disitu.” Katanya. Chou hanya mengangguk kemudian menyatukan tangannya seraya menutup matanya. Berdoa semoga masalah ini tidak tambah rumit.
“Anata, kita masih bisa mencari mata pencaharian baru. Bersabarlah…” Kali ini suara lembut terdengar ditelinga Kanzairu. Bisa dipastikan kalau itu suara ibu mereka, Lilynette Fallenstein.
“Aku…” balas suara berat tadi -ayah mereka, Auru Fallenstein. “Akan menyerahkan Chou kepada rentenir itu.” Katanya datar. Black ruby eyes milik Kanzairu dan Chou terbelalak kaget.
“Kau mau apa, Anata! Mau menjual Chou, anak kandungmu?!” teriak Lilynette frustasi. Seringaian tajam terlukis dibibirnya.
Perasaan itu… seketika berubah menjadi kelam.
“Chou sudah berumur 17 tahun. Sudah saatnya dia membantu keuangan keluarga ini.” Katanya. “Lagipula, dengan tubuh seperti itu, dia tidak hanya bisa melunasi hutang dan bunganya. Dia bisa jadi tambang emas buat kita,” ucapnya. Namun sang istri menggeleng mantap. “Dengan cara menjual tubuhnya? Ibu mana yang sanggup melihat anaknya seperti itu!” teriak Lilynette seraya berdiri menghadap suaminya.
“Cih! Kalau begitu kau saja yang akan kuserahkan pada rentenir itu, dasar istri tidak berguna!!” kata Auru menjambak rambut sang istri hingga dia terduduk dilantai.
“Okaa-sama!!!” teriak Kanzairu mulai keluar dari kamar dan berdiri didepan ayahnya. Kali ini Chou yang mengintip dari luar dengan tubuh yang gemetaran.
“Mau apa kau Kanza?” ucap sang ayah dingin. Tatapan benci dari Kanzairu terlihat jelas dengan backing sound suara sendu ibunya yang meronta-ronta untuk melepas cengkraman dirambutnya.
“Kau bukan ayahku…” umpatnya marah. Tangannya sudah terkepal geram. Ayahnya tersenyum sangar. “Ayah hanya membutuhkan adikmu, Chou. Dimana dia?” ucapnya mengacuhkan ucapan Kanzairu.
“Aku tidak akan membiarkan Chou bersama orang keji sepertimu!” ucapnya kasar. Sang ayah mulai naik darah kemudian mengeluarkan pistol dari balik sakunya. “Dasar anak kurang ajar! Dimana adikmu, HAH?!” ucapnya sambil memperkuat cengkraman dirambut sang istri.
“Kyaaaaaaah!!” rintihan Sang Ibu terdengar pilu ditelinga Kanzairu. Matanya sendu melihat sang ibu berusaha melepaskan cengkraman laki-laki yang tak pantas disebut ayah lagi olehnya. Sang ayah menyeringai lagi, “Kau mau melihat Ibumu menderita begini, Kanza?” katanya mengancam.
Gyuuuuuuuut! Lilynette mengigit paha Auru hingga dia mengerang kesakitan -juga melepas cengkramannya. Kaizairu terbelalak kaget melihatnya. Dia memukul kepala Auru dengan vas bunga kemudian menatap Kanzairu cemas.
“Larilah, nak! Ayahmu sudah dibutakan oleh uang! Jaga adikmu!” teriak Lilynette berdiri kemudian mencoba merampas pistol yang digenggam Auru.
“K-kaa-sama!” ucapnya terbata-bata. Tubuhnya tidak mau mengikuti arahannya. Tubuhnya terlalu kaku.
BRUUUK! PLAK!
“Cepatlah, Kanza!! Lindungi Chou!” kata Ibunya yang tetap gigih merebut pistol tersebut sekalipun tubuhnya disiksa oleh suaminya sendiri. “LARI, KANZAAA!!” teriak Lilynette lagi.
“DIAM KAU, BODOH!!” kata Auru menendang tubuh Lilynette hingga dia terlempar.
CEKLEK! Pelatuk pistol itu telah ditekan beriringan dengan mulut pistol yang melekat tepat dikening Lilynette. “Kau gila!!” teriak Kanzairu.
“Okaa-samaaaaaaaaaaaaa!!” teriak Chou akhirnya. Dia keluar dari kamar kemudian berdiri disamping Kanzairu. Auru tertawa horror seirama dengan seringaian kemenangan terlukis diwajahnya.
“Chou, anak ayah. Kemari,” katanya pelan. Chou menggeleng takut, tangannya mencengkram bahu Kanzairu dengan kuat. Auru tetap tenang. “Kemarilah, nak. Nyawa ibumu bergantung padamu…” katanya pelan.
“Oka…sama…” ucapnya lirih. Kanzairu menggeleng tanda tidak setuju. “Pergilah, Chou! Jangan kemari.” Kata Lilynette kemudian dihadiahi tamparan yang kesekian kalinya dipipinya. Darah masih setia menemani paras Lilynette. “Kau berisik!!” umpatnya.
“Okaa-samaa!!” teriak Chou hendak berlari mendekati Lilynette namun tangan Kanzairu menangkap tangan Chou. “Jangan.” Ucapnya pelan. “Demo, Okaa-sama…” katanya sambil terisak.
“CHOU!! KAU DENGAR APA KATA IBU?!! CEPAT PERGI DARI SINIII!!!”
“DIAM KAUU!!” Auru kehilangan kesabarannya kemudian mencoba melepaskan pelurunya beriringan dengan Kanzairu yang berlari menuju Auru.
“DAME!! OKAA-SAMA!!”
DOOORRRR!!! Liquid kental membasahi karpet yang semulanya berwarna putih. Sebagian mendarat diwajah sang pembunuh yang tersenyum lebar. Bau anyir tercium menusuk indra penciumannya.
Didepannya…
Mayat sang ibu tergeletak dengan mata dan mulut yang masih terbuka. Kening -sumber dari liquid anyir itu keluar terlihat berlubang.
“Itu hukuman untuk orang yang suka membangkang…” ucapnya sadis. Dan-
DOOR! DOOR! DOOR! Dengan kejinya dia melakukan hal yang sama terhadap korban yang sama. Hanya saja kali ini dia menyerang wajahnya. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Kanzairu yang berada didepan mayat ibunya tidak berkutik.
“HENTIKAN PERBUATANMU, IBLIS!!” ucap Kanzairu meledak seraya memukul wajah Auru.
TLEK! Pitol tersebut jatuh dengan jarak yang cukup jauh. Kanzairu terus menghadiahi pukulan kewajah ayahnya. Tak peduli air mata telah membanjiri wajahnya. Dia tetap memukulinya tanpa belas kasihan.
BRUUK! Auru tergeletak tak sadarkan diri. Kanzairu terengah-engah, dia palingkan wajahnya menuju mayat ibunya -yang sudah tidak terbentuk lagi wajahnya. Bau anyir yang menyengat tidak dia hiraukan lagi.
“Okaa-sama… maafkan aku…” katanya sambil menggenggam tangan Lilynette yang sudah dingin. Chou terduduk lemas dilantai. Airmata sudah membanjiri wajah dan lantai yang dia duduki.
Namun matanya berubah ketika melihat seseorang mencoba mendekati Kanzairu. Ya. Dia Auru, pembunuh Lilynette -istrinya. Kanzairu yang menyadari ayahnya yang keji itu dibelakangnya -dengan sebuah lampu tidur dari kaca ditangannya.
“Kau akan menyusul ibumu ke neraka…” ucapnya sambil melayangkan lampu tersebut menuju kepala Kanzairu. Matanya terpejam, tangannya dia silangkan keatas guna pertahanan diri.
Tapi… dia tidak kunjung datang.
“A-ahh… a-apa..i-ini…” ucap Auru terbata-bata. Matanya melihat perutnya yang juga mengeluarkan darah. Dia memegang perutnya hingga darah itu menempel ditangannya. Dialihkannya wajahnya kebelakang.
“C-chou…” panggil Kanzairu terbata-bata. Dibelakang ayahnya, Auru, sudah ada Chou dengan pecahan vas bunga yang cukup besar. Dan pecahan itu dia tancapkan keperut sang ayah.
“K-kau…”
BRUUUK!!
Auru terjatuh. Dia sudah tidak bernafas. Tubuh Chou bergetar tidak karuan. Dia berlutut menatap tangannya yang berdarah.
“Aku… aku membunuh Otou-sama…” ucapnya gemetar, matanya terbelalak kaget. Dibelakangnya sudah ada Kanzairu yang langsung memeluknya.
“Ssshhh… kau melindungku… kau tidak bersalah, Chou…” kata Kanzairu menenangkan Chou. Kemudian dia menggendong Chou menuju sofa.
“Nii-san mau telfon polisi dulu. Chou, tetaplah disini.” Katanya. Setelah Chou mengangguk Kanzairu meninggalkannya.
To be continue
Langganan:
Komentar (Atom)