Selasa, 13 September 2011

Our World are Cruel Right, Oniichan?

My first incest story~!
Gara-gara baca Yosuga no sora jadi pengen buad fic incest. Well, walaupun ceritanya -sangat- gaje, harap maklum soalnya shicchi belum pernah buat fiction incest~ pertamanya mau dimasukin ke fandom Naruto tapi… ada baiknya dijadikan ORIFIC saja dulu ==. Tapi ini tetep straight kok, no Yuri or yaoi XD kritik or saran sangat diperlukan m(_ _)m

Yosh cekidot~~!

W A R N I N G
OC, INCEST (a little) abal,
Don’t like don’t read
*
*
*
Title:     Our Worlds are cruel right, Onii-chan?
Genre:  Family/ Romance, a bit horror and tragedy
Rating: T for Teen

*
Dunia kami… tidak seindah dunia kalian… kehidupanku semula sama seperti kalian. Memiliki orangtua, rumah yang nyaman dan damai, dan kehidupan yang tentram.

Tapi ketentraman itu hilang… kedamaian berubah menjadi ketakutan. Ketentraman berubah menjadi sebuah keterpurukan. Aura haus akan membunuh sangat pekat. Bermula dari sebuah perkara.

“Apa?! Para investor membatalkan kerjasama-nya? Berapa investor yang mau menanamkan sahamnya ke perusahaan kita?”

“Sekitar tiga perusahaan. Namun semua itu perusahaan kecil. Sementara semua perusahaan kelas kakap mengetahui kalau perusahaan ini bangkrut langsung mencabut saham mereka kembali.”

“Hhhh… KUSO!!!”

*
“Otou-sama akan pulang sebentar lagi ‘kan, Onii-chan?” seru gadis mungil yang sedang merapikan pita dirambut twin pony tail-nya, Chou Fallenstein.

“Hm.” Hanya itu respond dari sang kakak laki-laki, Kanzairu Fallenstein. Sang adik perempuan melirik sang kakak heran. “Nii-chan, kenapa?” tanya Chou. Kanzairu hanya menggeleng kemudian duduk dibelakang adiknya. “Biar Nii-san rapikan rambutmu,” gumamnya diiringi anggukan Chou.

Suasana sepi sejenak. Hanya ada tangan yang bekerja tanpa mulut berbicara. Sepertinya mereka sudah kehabisan topic pembicaraan. Mereka tetap diam hingga akhirnya…

“Kita sudah bangkrut! Pihak bank akan menyita rumah kita! Dan rentenir sialan itu tidak henti-hentinya menaikkan bunga hutang kita!” teriak seseorang dengan suara berat. Chou bersama Kanzairu tersentak kaget. Kanzairu berdiri kemudian mengintip situasi dari balik kamar.

“Nii-chan…”

“Tetap disitu.” Katanya. Chou hanya mengangguk kemudian menyatukan tangannya seraya menutup matanya. Berdoa semoga masalah ini tidak tambah rumit.

“Anata, kita masih bisa mencari mata pencaharian baru. Bersabarlah…” Kali ini suara lembut terdengar ditelinga Kanzairu. Bisa dipastikan kalau itu suara ibu mereka, Lilynette Fallenstein.

“Aku…” balas suara berat tadi -ayah mereka, Auru Fallenstein. “Akan menyerahkan Chou kepada rentenir itu.” Katanya datar. Black ruby eyes milik Kanzairu dan Chou terbelalak kaget.

“Kau mau apa, Anata! Mau menjual Chou, anak kandungmu?!” teriak Lilynette frustasi. Seringaian tajam terlukis dibibirnya.

Perasaan itu… seketika berubah menjadi kelam.

“Chou sudah berumur 17 tahun. Sudah saatnya dia membantu keuangan keluarga ini.” Katanya. “Lagipula, dengan tubuh seperti itu, dia tidak hanya bisa melunasi hutang dan bunganya. Dia bisa jadi tambang emas buat kita,” ucapnya. Namun sang istri menggeleng mantap. “Dengan cara menjual tubuhnya? Ibu mana yang sanggup melihat anaknya seperti itu!” teriak Lilynette seraya berdiri menghadap suaminya.

“Cih! Kalau begitu kau saja yang akan kuserahkan pada rentenir itu, dasar istri tidak berguna!!” kata Auru menjambak rambut sang istri hingga dia terduduk dilantai.

“Okaa-sama!!!” teriak Kanzairu mulai keluar dari kamar dan berdiri didepan ayahnya. Kali ini Chou yang mengintip dari luar dengan tubuh yang gemetaran.

“Mau apa kau Kanza?” ucap sang ayah dingin. Tatapan benci dari Kanzairu terlihat jelas dengan backing sound suara sendu ibunya yang meronta-ronta untuk melepas cengkraman dirambutnya.

“Kau bukan ayahku…” umpatnya marah. Tangannya sudah terkepal geram. Ayahnya tersenyum sangar. “Ayah hanya membutuhkan adikmu, Chou. Dimana dia?” ucapnya mengacuhkan ucapan Kanzairu.

“Aku tidak akan membiarkan Chou bersama orang keji sepertimu!” ucapnya kasar. Sang ayah mulai naik darah kemudian mengeluarkan pistol dari balik sakunya. “Dasar anak kurang ajar! Dimana adikmu, HAH?!” ucapnya sambil memperkuat cengkraman dirambut sang istri.

“Kyaaaaaaah!!” rintihan Sang Ibu terdengar pilu ditelinga Kanzairu. Matanya sendu melihat sang ibu berusaha melepaskan cengkraman laki-laki yang tak pantas disebut ayah lagi olehnya. Sang ayah menyeringai lagi, “Kau mau melihat Ibumu menderita begini, Kanza?” katanya mengancam.

Gyuuuuuuuut! Lilynette mengigit paha Auru hingga dia mengerang kesakitan -juga melepas cengkramannya. Kaizairu terbelalak kaget melihatnya. Dia memukul kepala Auru dengan vas bunga kemudian menatap Kanzairu cemas.

“Larilah, nak! Ayahmu sudah dibutakan oleh uang! Jaga adikmu!” teriak Lilynette berdiri kemudian mencoba merampas pistol yang digenggam Auru.

“K-kaa-sama!” ucapnya terbata-bata. Tubuhnya tidak mau mengikuti arahannya. Tubuhnya terlalu kaku.

BRUUUK! PLAK!

Cepatlah, Kanza!! Lindungi Chou!” kata Ibunya yang tetap gigih merebut pistol tersebut sekalipun tubuhnya disiksa oleh suaminya sendiri. “LARI, KANZAAA!!” teriak Lilynette lagi.

“DIAM KAU, BODOH!!” kata Auru menendang tubuh Lilynette hingga dia terlempar.

CEKLEK! Pelatuk pistol itu telah ditekan beriringan dengan mulut pistol yang melekat tepat dikening Lilynette. “Kau gila!!” teriak Kanzairu.

“Okaa-samaaaaaaaaaaaaa!!” teriak Chou akhirnya. Dia keluar dari kamar kemudian berdiri disamping Kanzairu. Auru tertawa horror seirama dengan seringaian kemenangan terlukis diwajahnya.

“Chou, anak ayah. Kemari,” katanya pelan. Chou menggeleng takut, tangannya mencengkram bahu Kanzairu dengan kuat. Auru tetap tenang. “Kemarilah, nak. Nyawa ibumu bergantung padamu…” katanya pelan.

“Oka…sama…” ucapnya lirih. Kanzairu menggeleng tanda tidak setuju. “Pergilah, Chou! Jangan kemari.” Kata Lilynette kemudian dihadiahi tamparan yang kesekian kalinya dipipinya. Darah masih setia menemani paras Lilynette. “Kau berisik!!” umpatnya.

“Okaa-samaa!!” teriak Chou hendak berlari mendekati Lilynette namun tangan Kanzairu menangkap tangan Chou. “Jangan.” Ucapnya pelan. “Demo, Okaa-sama…” katanya sambil terisak.

“CHOU!! KAU DENGAR APA KATA IBU?!! CEPAT PERGI DARI SINIII!!!”

“DIAM KAUU!!” Auru kehilangan kesabarannya kemudian mencoba melepaskan pelurunya beriringan dengan Kanzairu yang berlari menuju Auru.

“DAME!! OKAA-SAMA!!”

DOOORRRR!!! Liquid kental membasahi karpet yang semulanya berwarna putih. Sebagian mendarat diwajah sang pembunuh yang tersenyum lebar. Bau anyir tercium menusuk indra penciumannya.

Didepannya…
Mayat sang ibu tergeletak dengan mata dan mulut yang masih terbuka. Kening -sumber dari liquid anyir itu keluar terlihat berlubang.

“Itu hukuman untuk orang yang suka membangkang…” ucapnya sadis. Dan-

DOOR! DOOR! DOOR! Dengan kejinya dia melakukan hal yang sama terhadap korban yang sama. Hanya saja kali ini dia menyerang wajahnya. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Kanzairu yang berada didepan mayat ibunya tidak berkutik.

“HENTIKAN PERBUATANMU, IBLIS!!” ucap Kanzairu meledak seraya memukul wajah Auru.

TLEK! Pitol tersebut jatuh dengan jarak yang cukup jauh. Kanzairu terus menghadiahi pukulan kewajah ayahnya. Tak peduli air mata telah membanjiri wajahnya. Dia tetap memukulinya tanpa belas kasihan.

BRUUK! Auru tergeletak tak sadarkan diri. Kanzairu terengah-engah, dia palingkan wajahnya menuju mayat ibunya -yang sudah tidak terbentuk lagi wajahnya. Bau anyir yang menyengat tidak dia hiraukan lagi.

“Okaa-sama… maafkan aku…” katanya sambil menggenggam tangan Lilynette yang sudah dingin. Chou terduduk lemas dilantai. Airmata sudah membanjiri wajah dan lantai yang dia duduki.

Namun matanya berubah ketika melihat seseorang mencoba mendekati Kanzairu. Ya. Dia Auru, pembunuh Lilynette -istrinya. Kanzairu yang menyadari ayahnya yang keji itu dibelakangnya -dengan sebuah lampu tidur dari kaca ditangannya.

“Kau akan menyusul ibumu ke neraka…” ucapnya sambil melayangkan lampu tersebut menuju kepala Kanzairu. Matanya terpejam, tangannya dia silangkan keatas guna pertahanan diri.

Tapi… dia tidak kunjung datang.

“A-ahh… a-apa..i-ini…” ucap Auru terbata-bata. Matanya melihat perutnya yang juga mengeluarkan darah. Dia memegang perutnya hingga darah itu menempel ditangannya. Dialihkannya wajahnya kebelakang.

“C-chou…” panggil Kanzairu terbata-bata. Dibelakang ayahnya, Auru, sudah ada Chou dengan pecahan vas bunga yang cukup besar. Dan pecahan itu dia tancapkan keperut sang ayah.

“K-kau…”

BRUUUK!!

Auru terjatuh. Dia sudah tidak bernafas. Tubuh Chou bergetar tidak karuan. Dia berlutut menatap tangannya yang berdarah.

“Aku… aku membunuh Otou-sama…” ucapnya gemetar, matanya terbelalak kaget. Dibelakangnya sudah ada Kanzairu yang langsung memeluknya.

“Ssshhh… kau melindungku… kau tidak bersalah, Chou…” kata Kanzairu menenangkan Chou. Kemudian dia menggendong Chou menuju sofa.

“Nii-san mau telfon polisi dulu. Chou, tetaplah disini.” Katanya. Setelah Chou mengangguk Kanzairu meninggalkannya.

To be continue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar