Gagal itu tidak enak bukan?
Siapa yang ingin gagal? Apakah ada manusia yang ingin gagal didunia ini? Entahlah. Yang jelas GAGAL itu menyakitkan!!!
*****
Disini dia berada. Disebuah lantai paling atas di sekolah memandang kebawah -melihat murid-murid berlalu-lalang dengan mata kosong. Kakinya diayunkan kedepan dan kebelakang secara bergantian, dan kedua tangan berdiri tegak dimasing-masing sisi menjadi tumpuan orang itu.
Shi Megami, perempuan, pelajar kelas dua SMU, 16 tahun. Ulangan Kimia mendapat nilai B.
Menghela nafas, dia mencoba menenangkan diri. Kali ini matanya tertuju kepada secarik kertas yang cukup kusut.
"Ulangan kali ini nilaiku jelek..." desahnya, kemudian meremas kertas itu sampai benar-benar kusut dan membuang kertas itu kebelakangnya.
PLUK
"Dai?" panggil perempuan itu ketika menyadari suara telapak seseorang.
"Dapat nilai jelek eh, Shi?" tanya seseorang yang membuka kertas tersebut. Perempuan itu mengalihkan pandangannya menuju orang itu.
"Hm." hanya itu yang keluar dari bibirnya, kemudian membalikkan badannya dan melanjutkan kegiatannya yang sebelumnya.
"Guru Kimia kita memang gitu... dia pelit kalau soal nilai," katanya, kemudian duduk disampinng perempuan itu. Shi yang terkejut langsung saja menjauh, "Apa-apaan kau duduk disitu?"
"Gezz, ya duduklah! Masa jongkok?" tanya Dai kemudian memposisikan dirinya se-PW mungkin (mulai humornya nih ==) sementara Shi hanya diam menunduk.
"Hey, ini hanya ujian bulanan saja... bukan mid semester..." katanya mengusap kepala Shi dan dibalas tatapan sangar oleh Shi.
'Enaknya jadi orang yang tidak banyak pikiran sepertimu," cibir Shi. Dai hanya tertawa hambar. "Dibawa enjoy aja, lagian bukan cuma Shi aja yang dapat nilai B kan?" ucap Dai.
"Hm." lagi-lagi dia mengatakan hal itu. Dai mengeluarkan sebuah head-phone dan memasangkannya ke telinga Shi.
"Apaan ini?" tanya Shi to the point. Dai berdiri kemudian tersenyum hambar.
"Lagunya bagus. Dengerin aja sampai puas," katanya menunduk, dan mengacak rambut Shi dan hendak pergi dari tempat itu.
"Hei, DAI!!!" pangil Shi. Dai menoleh kebelakang.
"Makasih," katanya datar kemudian membalikkan badannya. "Sudah pergi sanah." tambahnya. Dai hanya tersenyum menggeleng kemudian pergi.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar