“Megami itu dewi… bukan peri…”
“Tapi aku lebih suka memanggilmu yousei…”
“Kenapa? Lagipula megami lebih baik kan daripada yousei?”
“Hmm… entahlah, aku lebih suka memaggilmu yousei…”
“Hah... terserah kau saja… bicara soal nama, namamu siapa?”
“Namaku **** ….”
DEG!! Lamunan tadi hilang beriringan dengan nyaringnya bel sekolah berbunyi.
“Berapa lama aku diatas sini?”
SNOW FAIRY
Chapter #2; Sing For Me
Pelajaran matematika sudah berlalu beberapa detik setelah terdengar suara bel ang begitu nyaring, dan sesegera mungkin gadis blonde berponi itu memasuki ruangan kelas dan duduk dibangkunya.
“Shi-chan? Tumben kamu membolos pelajaran,” ucap teman sebangkunya, Noe. Shi hanya tersenyum kecut mendengarnya. Iya, ini adalah kalipertamanya membolos pelajaran disekolah. Kemudian matanya menjelajah ke sudut ruangan kelas itu. Dipojok kiri, Dai bersama dengan sebangkunya sedang antusiasnya bercerita.
“Gezz…” desahnya kasar kemudian kembali duduk.
~~~Istirahat~~~
Shi berjalan menuju kursi belakang. Terlihat disitu Dai dengan sebangkunya, Naru berhenti berbicara ketika dia berdiri di depan meja mereka. “Ada apa?” tanya Dai. Shi menggeleng kemudian memberikan head-phone beserta I-pod yang Dai pinjamkan kedia, kemudian pergi dari situ. “Bagaimana pendapatmu tentang lagunya?” tanya Dai. Shi membalikkan badannya.
“Jelek. Lagu itu tidak cocok denganku. Terlalu mellow. Lagu apaan itu? Apakah ada orang aneh yang bisa menciptakan lagu seaneh itu?” tanya Shi kemudian menggeleng sebentar lalu pergi. Dai dan Naru cengo ditempat. Hingga beberapa saat kemudian Naru menepuk pundak Dai. “Man, bahkan dia tidak berterima kasih kepadamu.” Katanya sambil geleng-geleng. Dai kemudian berdiri, “Bukan Shi namanya kalau tidak tsundere begitu…” katanya kemudian pergi meninggalkan Naru yang juga cengo pangkat dua.
Di atas atap, Dai berjalan menjelajahi ruangan yang cukup luas itu hingga akhirnya dia menemukan objek pencariannya itu. Shi Megami. Dia sedang duduk diujung balkon, sama seperti kemarin. Kakinya menari-nari secara bergantian, mata blue shappire yang sayu menatap kerumunan orang yang berjalan kesana-kemari. Dai mulai berjalan mendekatinya.
“Dasar tidak sopan! Setidaknya berterima kasih kek,” ucapnya seraya duduk disampinng Shi. Namun Shi sama sekali tidak menggubris perkataan dari Dai. Bahkan dia hanya diam melanjutkan aktivitasnya. “Kau kenapa?” tanya Dai lagi, namun gadis itu tetap diam. Dai yang jengkel mulai memasang earphone ditelinganya dan menikmati alunan lagu yang keluar dari I-pod nya.
“Say tomorrow~ I can’t follow you there… just close your eyes… and sing for me…I will hear you… Always near you…And I'll give you the words, just sing for me…” Dai tetap melantunkan lagu tersebut hingga Shi menoleh kearahnya.
“Tidak bisakah kau menyanyikan lagu yang lebih bagus daripada lagu itu?” tanya Shi jengkel. Matanya tetap sayu meskipun nadanya terkesan menyebalkan. Dai mengeryitkan alisnya. “Kau dengar dulu, kemudian resapi kata-katanya. Lagu ini penuh dengan makna,” katanya kemudian memasangkan sebelah earphone itu ke telinga Shi.
“Aku tidak mau!” kata Shi yang melepas earphone itu. Dai menggeleng, “Terserah.” Katanya tapi tidak memasang earphone itu. Shi tetap duduk menundk selama Dai mengangguk, menggeleng, dan lain sebagainya.
“Aku mau tanya…” kata Shi, tapi pandangannya tetap didepan. Dai terdiam, “Apa?” Shi menolehkan kepalanya melihat Dai, “Kenapa playlist dari I-pod mu hanya ada lagu itu?” Dai tertawa. “Menurutmu?” tanya Dai. Shi menggeleng, “Kalau tidak jawab juga tiak apa-apa.” Kata Shi jengkel. Dai masih saja tetawa, dan itu membuat Shi semakin jengkel.
Mata shappire itu kembali sayu…
“Lagu itu mengingatkanku pada seseorang…” katanya. Dai berhenti tertawa, “Hm? Benarkah?” tanya Dai. Shi mengangguk. “Yuki.” Katanya.
Disaat yang sama... air mata itu mengalir pelan